DETIK NEWS (Bandung) - Mengacu
data BPS, ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 tumbuh 5,29 persen secara
tahunan. Sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 5,65 persen serta
berkontribusi 6,16 persen terhadap PDB, menunjukkan peluang bagi perusahaan
logistik untuk memperkuat strategi pertumbuhan.
Perdagangan luar negeri turut membuka peluang. Ekspor Januari-Mei 2026
mencapai USD115,36 miliar, naik 3,02 persen secara tahunan, sedangkan impor
mencapai USD111,33 miliar atau tumbuh 15,24 persen. Neraca perdagangan mencatat
surplus USD4,03 miliar.
Merespons perkembangan tersebut, Logistics Executive Forum 2026
diselenggarakan di HARRIS Convention Hall Summarecon Bekasi pekan lalu (12/8).
Forum yang digelar Inoversi dan Beyond Core Academy serta didukung ALFI DPW
Jawa Barat dan Supply Chain Indonesia (SCI) ini menyasar pemimpin industri dan
mendapat respons positif.
Berty Argiyantari, Founder Inoversi Business Consultant dan Co-founder
Beyond Core Academy, menginisiasi forum untuk mendorong perusahaan logistik
menemukan sumber pertumbuhan baru melalui diversifikasi sektor dengan
mempertimbangkan potensi pasar, kapabilitas, dan risiko.
Setijadi, CEO dan Founder SCI, memaparkan bahwa pertumbuhan sektor
transportasi dan pergudangan perlu dibaca bersama perubahan permintaan,
perdagangan, teknologi, dan kebijakan. Perusahaan tidak cukup mengejar volume,
tetapi perlu memilih sektor pelanggan yang prospektif, membutuhkan layanan
logistik, dan memiliki ketahanan bisnis.
Diversifikasi dapat diarahkan ke sektor makanan dan minuman, ritel dan
perdagangan elektronik, manufaktur, agribisnis, farmasi, serta rantai dingin.
Pemilihan sektor didasarkan pada ukuran dan pertumbuhan pasar, arus barang,
persaingan, kebutuhan investasi, serta kesesuaian jaringan.
Penerapannya memerlukan pemetaan peluang, penilaian kapabilitas,
pemilihan sektor prioritas, pengembangan solusi, dan uji pasar. Ekspansi
bertahap memungkinkan perusahaan membangun portofolio tanpa mengganggu layanan
inti dan arus kas.
Yan Hendry Jauwena, Chief Sales Officer CJ Logistics Indonesia, menjelaskan bahwa diversifikasi harus diterjemahkan menjadi model bisnis yang jelas. Perusahaan perlu menetapkan proposisi nilai, segmen pelanggan, cakupan layanan, sumber pendapatan, struktur biaya, dan kemitraan.
Kesiapan operasi menjadi penentu keberhasilan. Kapabilitas sumber daya
manusia, proses, teknologi, aset, jaringan, tata kelola, dan standar layanan
harus sesuai dengan kebutuhan sektor sasaran agar peluang tidak menimbulkan
kompleksitas yang tidak terkendali.
Implementasi perlu dilakukan melalui proyek percontohan dengan
indikator terukur, termasuk pendapatan, margin, utilisasi aset, mutu layanan,
dan retensi pelanggan. Evaluasi menjadi dasar untuk memperluas, menyesuaikan,
atau menghentikan inisiatif.
Trismawan Sanjaya, Sekretaris Jenderal DPP ALFI, menggarisbawahi bahwa
diversifikasi menambah risiko perusahaan. Risiko pasar, kredit pelanggan,
investasi, operasional, teknologi, regulasi, keselamatan, dan reputasi perlu
diidentifikasi sejak perencanaan.
Setiap pilihan sektor perlu dilengkapi batas toleransi risiko,
skenario, mitigasi, penanggung jawab, dan mekanisme pemantauan. Pendekatan ini
membantu manajemen menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan kemampuan menyerap
potensi kerugian.
(Redaksi DNN.Com/Humas SCI).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar